Ramadhan Yang Tak Sama Lagi

0
254

Bulan Ramadhan sering disebut sebagai “khoirus Suhur”, bulan paling baik di antara bulan-bulan lainnya. Bulan yang paling utama diantara bulan-bulan lainnya. Bulan Ramadhan adalah bulan yang dipenuhi rahmat dan magfirah. Bulan paling istimewa. Karena pada bulan ini Al-Quran diturunkan pertama kali dan dalam bulan ini terdapat malam yang disebut malam yang lebih baik daripada 1000 bulan, yaitu lailatur Qadar.

Tetapi Ramadhan tahun ini kemungkinan tak akan seramai seperti Ramadhan-ramadhan sebelumnya, waktu sahur yang biasanya ada sekelompok pemuda-pemuda desa membangunkan masyarakat dengan alunan lagu diiringi dengan alat-alat musik yang nyaring, anak-anak kecil yang berlari-lari menuju tempat pengajian subuh kemudian saat mereka pulang berboyong-boyong untuk menyalakan petasan, sore hari ada “ngabuburit” berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu atau mengunjungi pasar-pasar yang dibuka khusus saat akan berbuka puasa, berbuka puasa dengan keluarga, saudara, maupun teman-teman, tarawih yang ramai berjamaah di masjid, sholat idul fitri dan tentu tak lupa puncak kultur muslim Indonesia yaitu mudik dan kegiatan khas Ramadhan lainnya yang tak ada diselain di bulan Ramadhan.

Semua keseruan Ramadhan di atas kemungkinan besar tak akan kita nikmati untuk Ramadhan kali ini. Di medsos pun muncul banyak status yang membicarakan ini yang kemudian mereka menyimpulkan jika tak ada kekhasan Ramadhan yang biasa maka Ramadhan tahun ini serasa tak afdol (bukan Ramadhan), dan komentar lainnya yang menunjukkan bahwa untuk beberapa orang Ramadhan kali ini akan menjadi Ramadhan terburuk.

Tapi apakah benar Ramadhan tahun ini akan menjadi yang terburuk?

Apapun yang terjadi kemuliaan Ramadhan tak akan pernah berkurang tak akan pernah hilang. “Bulan paling mulia adalah bulan Ramadhan , dan hari paling mulia adalah hari jumat” (HR. Thabrani). Dan bagi beberapa orang Ramadhan ini bisa menjadi Ramadhan terbaik sepanjang hidup karena dengan ini kita bisa bisa menemukan kenikmatan menyembah kepada Allah secara lebih pribadi, lebih intens, dan lebih intim seperti Nabi Muhammad SAW yang selalu bertafakur di goa hiro saat ramadhan. membaca Al-Quran dalam ketenangan yang lama, sujud yang lebih rendah daripada biasanya, dan berdialog dengan diri sendiri yang lebih berkualitas.

Oleh karena itu keterpaksaan keadaan seperti ini membuat kita bisa lebih menghargai semua berkat-berkat yang diambil dari Ramadhan tahun-tahun sebelumnya kemudian jadikan hikmah untuk Ramadhan tahun ini. Dengan begitu kita bisa menemukan arti ibadah yang sesungguhnya.

Terakhir dengan segala kondisi dan suasana yang ada memang membuat kita sedih tetapi jangan dijadikan sebuah alasan untuk tidak menjadikannya sebagai ramadhan terbaik dalam hidup, karena ada kemungkinan bahwa ramadhan tahun ini adalah ramadhan terakhir kita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here