Yang Lebih Berbahaya Daripada Covid-19

0
105

Akhir tahun 2019 dunia dikejutkan dengan kemunculan virus baru dari varian keluarga Corona yang dinamakan Covid-19, kemudian tahun 2020 virus ini menyebar ke seluruh dunia bahkan meluluhlantakkan negara-negara maju termasuk beberapa negara adikuasa. Virus ini sudah menjangkiti lebih dari 7 juta orang di seluruh dunia dengan jumlah kematian lebih dari 400 ribu orang lebih di seluruh dunia. Statistik tersebut menunjukkan bahwa selain virus ini mematikan tetapi yang paling dikhawatirkan adalah kemampuan virus dalam penyebarannya sangat cepat ditambah sampai sekarang vaksin virus masih dalam tahap pengembangan yang artinya virus ini belum memiliki obat yang spesifik untuk menyembuhkannya.

Fenomena pandemik Covid-19 ini sangat membahayakan masyarakat oleh karena itu pemerintah (umara) dan ulama saling membahu untuk memberi anjuran untuk kepentingan keselamatan masyarakat itu sendiri, tetapi apa yang terjadi? Para ulama yang memiliki kealiman dalam berbagai keilmuan kemudian mereka bermusyarawah dengan banyak pertimbangkan dengan tujuan minimalisir kemudratan dan memaksimalkan kemaslatan masyarakat itu sendiri tetapi masyarakat terutama khususnya awam tidak menerima anjuran para ulama karena merasa putusan para alim ulama tidak sesuai dengan dalil Al-Quran dan Hadis menurut pandangan mereka.

Disinilah yang lebih berbahaya daripada corona itu sendiri yaitu merasa tidak awam dan merasa lebih alim dalam ilmu agama daripada ulama yang diakui kealiman oleh para ulama lainnya. Munculnya fenomena ini memang sudah terjadi sejak lama bahkan fitnah-fitnah yang terjadi di tubuh umat Islam berasal dari umat Islam itu sendiri terutama orang awam yang merasa tidak awam kemudian mereka merasa alim dan mereka mengeluarkan berbagai fatwa tanpa keilmuan yang memadai sehingga muncul banyak kegaduhan. Khalifah Ali berkata “Andai yang tak berilmu mau diam sejenak, niscaya gugur perselisihan yang banyak”.

Munculnya fenomena keagamaan yang belakangan terjadi sesuai dengan perkataan guru besar Al-Azhar Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya berjudul Al-Sunnah Al-Nabawiyyah: Baina Ahl Al-Fiqh Ahl Al-Hadits mengatakan “sungguh betapa banyaknya hadis yang kini tersiar di kalangan para pemuda yang darinya mereka menyimpulkan ketentuan-ketentuan hukum yang tidak bijaksana”. Sehingga fenomena keagamaan hari ini banyak muncul fatwa-fatwa yang memicu keributan dan fitnah ditengah tengah umat islam kemudian citra Islam yang begitu kaku dan menyeramkan mencuat. Syekh Muhammad Al-Ghazali berkenaan dengan fenomena agak keras beliau mengatakan “Saya khawatir bahwa menghadirkan nash-nash tertentu secara terpisah dari konteksnya akan menyebabkan hilangnya agama dan dunia secara bersamaan”

Sekadar untuk pemahaman dasar untuk tafsir Al-Quran maupun hadis dalam buku Tafsir Al-Quran di Medsos karangan Gus Nadirsyah Hosen salah satu intelektual muda NU menerangan bahwa Hadis ada tidak qath’i (pasti), bukan hanya dari segi periwatannya (qath’i al-wurud), melainkan juga dari segi pemahamannya (qath’i al-dilalah). Sedangkan Al-Qur’an meski qathi (pasti) dari segi wurud tapi tidak selalu qath’i (pasti) dari segi pemahaman/penafsirannya ditambah metode dan kaidah tafsir yang berbeda-beda. Ada yang lebih suka dengan dengan kaidah tafsir literal (harfiah) sebagaimana sebagian kaum salafi, kemudian ada berbagai metode tafsir lain seperti tahlili, maudhu’i, muqaran atau muqarin malah ada takwil yakni tafsir esoteris (bathini) yang didasarkan pada keyakinan bahwa Al-Qur’an memiliki banyak lapisan arti.

Masalah akan lebih rumit lagi jika dikaitkan dengan penerapan berbagai kaidah tafsir, seperti muthlaq-muqayyad, am-khash, belum lagi nasikh-mansukh. Ada yang berpendapat bahwa suatu ayat berlaku secara mutlak, tidak situasional. Ada pula yang menganggap berlaku dalam situasi khusus. Bahkan, ada yang beranggapan suatu ayat berlaku umum, ada yang menganggap berlaku dalam situasi khusus. Bahkan ada yang beranggapan suatu ayat dianggap sudah dihapus oleh ayat lain. Sedangkan hadis faktor yang terlibat lebih banyak lagi. Hadis ada yang haqq dan mansukh, Ada yang berlaku umum dan khusus. Ada yang muhkam dan ada yang mustasyabih, belum dengan melihat kondisional karena Rasullulah bersabda menyesuaikan maqom dan siapa yang bertanya, atau dalam kondisi apa beliau bersabda sehingga banyak hadis yang hampir sama tapi berbeda redaksinya. Sehingga bukan saja makna sebuah hadis tidak qath’I (pasti), transmisinya pun tidak qath’I (pasti).

Akan lebih rumit lagi karena untuk bisa menafsirkan dibutuhkan kedisplinan ilmu yang tidak disedikit jika di pesantren disebut dengan ilmu alat. Ilmu alat seperti ilmu nahwu, Lughot, Sharaf, ushul fiqih, asbabun-nuzul, nasikh mansukh, isytiqaq, ma’ani, bayaan, Badi. Qiraat dll. Bagaimana jika ada orang tidak menguasai ilmu-ilmu alat ini kemudian dia mencoba menafsirkan Al-Qur’an dan Hadis berhati hatilah karena banyak Ulama yang mengingatkan salah satunya Syech Imam Nawawi Al-Bantani “Barang siapa berbicara tentang Al-Quran sedangkan ia bukan mutabahhir (orang yang nan luas dalam keilmuannya) dalam keilmuan usul ilmu lugoh serta nahwu maka ia akan sangat jauh dari Allah Ta’ala”

Oleh karena itu di pesantren2 tradisional harus belajar diniyah untuk mempelajari ilmu-ilmu alat minimal 9 tahun dan 9 tahun itu mereka belum boleh untuk mempelajarinya kitab-kitab hadis yang mutabar (primer) seperti hadis bukhari dll. Setelah 9 tahun belajar santri belum ideal juga untuk menjadi pengajar dibutuhkan sebuah ijazah yang diakui langsung Pak Yai nya untuk diperbolehkan mengajar tapi terkadang Pak Yai malah menyuruh santri itu untuk belajar ngaji lagi kepada Pak Kiyai lainnya. Oleh karena itulah ironi sekali jika orang yang baru belajar agama dan mereka belajar dari internet berani untuk menshare status agama dengan dalil Al-Qur’an dan Hadis dengan modal 1 ceramah/kajian 1 ustadz/ulama durasi kajian 1.30 sedangkan yang belajar 9 tahun saja tidak seberani seperti itu.
Ada pepatah yang mengatakan “Jika seseorang belajar agama 1 tahun ia merasa dirinya Tuhan. Jika ia belajar agama 2 hingga 5 tahun, ia merasa dirinya Nabi, Jika ia belajar agama 6 hingga 8 tahun ia merasa dirinya ulama hebat. Tapi ada yang belajar agama 15 tahun lebih, ia merasa dirinya tidak tahu apa2, karena ia yakin hanya Allah yang Maha Tau”
Oleh karena itulah lulusan santri lebih berhati-hati dalam berbicara ilmu agama di medsos daripada orang-orang yang baru belajar agama yang sangat rajin mengeupload tentang keagamaan karena mereka mengerti betapa bahayanya berbicara agama tanpa keilmuan yang memadai. Bukannya sangat berbahaya, jika ada orang yang tidak mampu berenang lalu terjun ke dalam lautan samudra? Oleh karena itulah mestinya kita paham dimana maqom kita berada agar berbicara dan bertindak sesuai kemampuan yang dimiliki agar tidak menimbulkan banyak kemudrahatan, mungkin niat kita mulia ingin membela agama tetapi yang terjadi sesungguhnya bahwa secara tidak langsung keinginan membela itu menghancurkan agama itu sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here