Menjelang Wafatnya Abah Ajengan Cipasung

0
575

Wawancara bersama Ibu Hj Euis Anak dari Abah Ajengan  yang dilaksanakan di rumah beliau, 04 Agustus 2020

Saya pribadi merupakan salah satu dari anak perempuan Abah yang paling dekat dan paling berani kepada Abah. Hal ini dikarenakan kakak – kakak saya yang perempuan itu sudah ada yang menikah dan sekolah di luar kota sehingga hanya tersisa saya waktu itu yang cukup umur untuk bisa melayani Abah. Sehingga seolah-olah Emih (Istri pertama Abah) memberikan tugas untuk melayani Abah sebisa saya seperti membawakan minum, makan atau memanggilkan Ema Ibi (istri kedua abah) untuk makan bersama Abah Ruhiat. Sementara anak laki – laki yang paling dekat dengan Abah Ajengan waktu itu adalah Uwa Ilyas (KH. Ilyas Ruhiat) dan Uwa Abun (KH. A. Bunyamin Ruhiat), mereka berdua dekat karena umur mereka sudah mendekati dewasa sehingga sering mendampingi Abah Ajengan.

Sosok Abah Ajengan Cipasung itu mengagumkan, beliau tidak pernah bercerita keluhan kepada keluarganya juga sangat menjaga ucapan sehingga mutiara yang keluar dari mulut abah itu tidak menyakiti orang lain. Begitulah Abah Ajengan sangat menjaga ucapannya.

Kebiasaan Abah Ajengan tiap hari selain mengajar santri  salah satunya adalah mendengarkan pemberitaan dari radio, Abah sangat cepat tanggap dalam mencari informasi yang bisa beliau dapatkan sehingga selalu update mengenai perkembangan dunia luar. Hal ini menunjukan majunya pemikiran Abah Ajengan yang tidak mau ketinggalan dalam memahami zaman ini untuk diaplikasikan pada masyarakat. Radio Abah Ajengan itu berwarna Hitam warna keseluruhannya namun ada warna putihnya sedikit yang sering saya bawakan.

Perjuangan Abah dalam memperjuangkan agama ini sangat totalitas hingga beliau sering keluar masuk penjara karena integritas beliau yang luar biasa dalam mendakwahkan agama islam. Abah sangat suka dalam riyadoh untuk menunjang perjuangannya seperti membaca shalawat munfarizah. Beberapa doa yang saya terima melalui Uwa Ilyas diterima dari Abah Ajengan itu kurang lebih shigat nya seperti ini :

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ،

وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ،

وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيْبَاتِ الدُّنْيَا

وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا،

وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا

وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا،

وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا

وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا

Do’a diatas merupakan doa dari Uwa Ilyas yang beliau terima dari Abah Ajengan, Uwa Ilyas berkata “sok apalkeun ti Abah”. Bahkan saya sering baca ini ketika habis beres majelis ilmu dan ketika shalat lima waktu.

Kepada kedua istrinya Abah selalu berusaha untuk adil sekali, kehidupan beliau dan kedua istrinya juga sangat romantis dan harmonis. Abah Ajengan tidak akan makan jika kedua istrinya itu belum ada disampingnya. Istrinya menyiapkan makanan untuk makan Abah hingga semuanya siap, lalu Abah menunggu formasi makan lengkap dengan kedua istrinya hingga saya selalu disuruh Abah untuk memanggil Ema Ibi untuk makan dirumah Emih.

“Mak Ibi, diantos tuang ku Abah di bumi emih”

Kedua istrinya Abah juga tidak berdiam diri saja dalam membantu Abah menyi’arkan agama islam akan tetapi mereka menyiapkan dan mengatur segala keperluan Abah Ajengan. Hingga istri beliau itu mengelola pengajian ibu-ibu namun dahulu agak terbatas tidak seperti sekarang. Termasuk Emih (istri pertama) mempunyai pengajian khusus yang dilaksanakan pada tiap hari rabu sehingga setelah beliau wafat ditugaskan kepada saya untuk melanjutkannya hingga sekarang. Sosok Emih itu sangat menjadi panutan beliau tidak pernah mengeluh, penyabar, tidak pernah memperlihatkan tidak enaknya pada hal apapun. Lalu ada lagi peran perempuan lain di Cipasung yang dikenal sebagai Ibu Hj. Sua itu yang mempunyai pengajian khusus sehingga ketika beliau wafat dilanjutkan oleh ibu Hj Imas. Sementara pengajian mingguan dan bulanan Abah dulu diwasiatkan kepada Uwa Ilyas sekarang oleh Uwa Abun dan H. Ubed (KH. Ubaidillah Ruhiat) serta anak-anak yang lainnya.

Namun Abah selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak poligami karena takut tidak bisa adil kepada para istrinya. Cukup Abah Ajengan saja, ini juga untuk kemajuan pondok pesantren.

Kebiasaan lain Abah Ajengan adalah ikutnya salah satu keluarga Abah ketika diundang untuk berceramah di luar daerah sehingga ketika sampai ditempat pengajian mau apapun itu silahkan diambil saja dan ketika pulang itu dikasih hadiah untuk dibawa pulang berupa makanan, ayam hingga domba kami tuntun untuk dibawa pulang.

Kesukaan lainnya dari Abah Ajengan yaitu ternak ayam, ikan gurame, hingga burung merpati itu banyak dulu di Cipasung yang sering berjejer di pinggir kolamnya Abah Ajengan.

Hal kecil inilah yang membuat keluarga Abah sangat harmonis sehingga suatu ketika Abah jatuh sakit. Seolah olah Sinar mentari yang biasanya ceria menampakan sinarnya dipagi hari seakan enggan untuk menyapa siapapun di Cipasung. Abah Ajengan sedang tidak kerasan badannya karena kurang sehat. Tubuh yang gagah itu kini  terbaring di klinik Dr. Rum.

“euis, pang nyandakeun cai!” (kata Abah Ajengan pada saya anak perempuannya).

“Muhun mangga Abah”

Sesekali ketika Abah ajengan ingin makan maka saya menyuapi beliau.

Hingga tiba kondisi Abah tidak kunjung membaik sehingga dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin di Bandung.  Beberapa hari dirawat, membuat sanubari saya sangat rindu kepada beliau dan tiba waktu untuk menjenguk Abah untuk terakhir kalinya di Rumah Sakit Hasan Sadikin, saya kira Abah akan membaik. Namun, ketika saya perjalanan pulang dari Bandung dalam rangka menjenguk Abah, perkiraan ketika saya sampai di sekitar Garut mendengar kabar bahwa matahari yang senantiasa terbit di langit Cipasung telah wafat.

Rasa haru sangat menyelimuti kami waktu itu, sehingga ketika jenazah Abah Ajengan datang ke Cipasung karena waktu itu belum ada jalan Muktamar maka jenazah dibawa lewat jalan yang sekarang ada As Sabiq. Sontak seluruh masyarakat tumpah ruah dijalanan sehingga mobil jenazah tidak bisa masuk. Sehingga jenazah Abah Ajengan berlayar di lautan manusia, semua ingin mengantar beliau, semua ingin memberikan penghormatan untuk beliau, semua air mata terkumpul pada kelopak yang nanti pada hari kiamat akan menjadi saksi bahwa ia telah menetes karena kehilangan seorang ulama besar yang semoga dengannya akan menjadi hujjah pada Allah bahwa masyarakat adalah pecinta Ulama.

Prosesi pemulasaraan jenazah telah berlangsung, Abah Ajengan yang senantiasa tersenyum di pagi hari telah hilang secara jasad dari kelopak mata kami. Namun kehadirannya sangat kami rasakan, apalagi ketika saya melaksanakan ibadah haji serasa Abah Ajeungan ikut menuntun saya berthawaf di masjidil haram. Ya Allah…

Masih teringat ketika itu sedang melaksanakan ibadah haji saya kecapean hingga tergeletak tidak sadarkan diri. Ternyata disana Allah takdirkan saya bertemu dengan ayahanda tercinta. Abah hadir ketika saya tidak sadarkan diri selama 4 hari sehingga saya seolah olah seperti mimpi. Saya melihat lautan yang sangat indah ketika itu hingga saya melihat sekelompok seperti para ulama yang sangat gagah luar biasa. Sehingga sudut mata ini terus menerka melihat deretan para ulama, ternyata sosok Abah Ajengan ada di deretan ulama itu bersama kakak-kakak saya Uwa Ilyas, Uwa Udung (KH. Dudung Abdul Halim)  dan Uwa Abun berada di belakang Abah. Subhanallah… ya Allah…

Hingga sayapun sadarkan diri dan teringat bahwa waktu saya tidak sadarkan diri adalah waktu Haulnya Abah Ajengan….. ya Allah, sangat bersyukurnya saya semoga ini menjadi kabar baik untuk kita semua. Setelah bermimpi itu badan yang tadinya udah drop serasa mendapatkan kekuatan lahir dan batin hingga akhirnya dapat menuntaskan semua kewajiban dan sunnah haji yang tadinya saya udah pasrah hingga dengan wasilah tersebut bisa kembali ke tanah air seperti sekarang ini.

Jika kalian rindu abah maka lihat saja anak-anaknya yang masih hidup, bisa dilihat dari Uwa Abun atau Acep Adang (KH. Acep Adang Ruhiat) bahkan yang lainnya itu ada bagian bagian Abah yang menular pada anak-anaknya.

Saya berpesan untuk para santri supaya bisa menjaga adab adaban terutama pada guru supaya tatakrama bisa dijaga. Karena dulu yang mondok di Cipasung semuanya jadi ajengan. Karena mereka tawadlu ,takdzim luar biasa pada Abah Ajengan dan guru yang lainnya. Dapatkanlah ilmu yang bermanfaat serta barokah walau itu sedikit. Saya bersyukur atas doa dari orangtua saya semunya karena wasilah beliau saya bisa seperti ini.

Semoga Allah menunjukan jalannya yang lurus kepada kita agar dijadikan sebagai santri dari Abah Ajengan Cipasung dan Apih Ilyas Ruhiat. Aamiin.

Cipasung, 05 Agustus 2020

Penuh Cinta

Dezan Kurniawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here