“JAGAAN PASANTREN” (Kisah KH Ubaidillah Ruhiat bersama Abah Ruhiat)

0
277

Dahulu kala, kebersamaan Abah Ruhiat bersama anak-anaknya sudah tercipta sangat harmonis. Pernah suatu ketika Abah Ruhiat memberikan tugas yang berbeda kepada anak-anaknya, seperti halnya KH Moh Ilyas Ruhiat, KH A. Bunyamin Ruhiat di tugaskan untuk memperdalam keilmuan Pesantren berupa pengajian sementara untuk Anak-anak Abah Ruhiat yang lain di berikan tugas yang berbeda seperti halnya Kyai Ubaidillah ditugaskan oleh Abah Ruhiat untuk memperdalam Ilmu Hikmah beserta Ilmu Bela Diri.

“kudu jurusan gelut manehmah, lain jurusan ngaji. Lamun aya nu nangtang, maka ulah dimana-mana datangan ka imah na wanieun (apa) henteu”

Oleh karena itu sejak dahulu, Ilmu Abah Ruhiat dalam Jalur Hikmah dan bela diri di turunkan kepada KH Ubaidillah Ruhiat. Seperti halnya Ilmu berjalan cepat yang diterima dari Abah Ruhiat sehingga pernah dahulu ketika itu ingin mencoba Ilmu ini bersama Abah Ruhiat di praktekan dengan berjalan menuju Pamijahan paling lama hanya 15 menit saja. Ilmu Lainnya adalah Ilmu menghilang atau tidak kelihatan yang pernah suatu ketika di coba KH Ubaidillah mencoba Ilmu ini dengan pergi ke Makkah selama tiga kali tanpa membayar uang sepeser pun, namun yang ke tiga kalinya itu gagal karena waktu mengamalkan Ilmu ini KH Ubaidillah tertidur sedangkan syarat Ilmu ini tidak boleh hilang kesadaran atau tertidur. KH Ubaidillah tertidur ketika di Abu Dhabi mau Landing pesawat sehingga waktu itu langsung di borgol dan di penjara. Ilmu Lainnya adalah Ilmu Kebal dari benda Tajam yang sering ia coba ketika masih muda hingga pernah waktu itu KH Ubaidillah muda di lindas oleh kendaraan berat (stum) namun dengan izin Allah tidak terjadi apa-apa. Ilmu kuat berenang dengan riyadoh melakukan dzikir di dlalam air dengan anggota badan di ikat dengan besi dan disimpan di batu sehingga ketika melewati fase ini lebih kuat dan tahan di dalam air.

Inti dari pemberian Ilmu yang tidak lazim dari Abah Ruhiat kepada KH Ubaidillah adalah pesan dari Abah Ruhiat sendiri yaitu bahwa

“ieu teh pikeun ngajagaan Pasantren bisi aya nanaon” pungkas abah Ruhiat.

Sehingga sampai sekarang pun walaupun Abah Ruhiat sudah wafat ketika ada hal yang mengancam Pesantren akan memberikan Isyarat kepada beliau KH Ubaidillah Ruhiat dan akan menjadi benteng paling depan dalam mengawal Pesantren Cipasung.

Penulis : Dezan Kurniawan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here